RSS

Strategi Mempersiapkan UN Bahasa Indonesia

21 Feb

Strategi ini bukan “trik menjawab soal” seperti yang biasa diperkenalkan oleh berbagai lembaga bimbingan belajar. Sekali lagi bukan “trik” tetapi “strategi elegan” yang memerlukan persiapan matang sebelum bertempur menghadapi soal UN. Strategi yang akan memberikan kompetensi berbahasa yang sesungguhnya.

1.      Strategi Tuntas Memahami Soal

Tuntas memahami soal UN bahasa Indonesia mengandung dua indikator, yakni cepat dan cermat memilih jawaban. Langkah cepat menyelesaikan soal bahasa Indonesia adalah dengan mengombinasikan teknik membaca sesuai dengan karakteristik stimulus soal. Langkah yang perlu diambil secara sistematis sebagai berikut.

(1)   Baca dengan cermat dan kritis stem (pernyataan soal) untuk menangkap maksud soal. Gunakan jenis membaca intensif dengan teknik membaca kritis.

(2)   Baca sekilas  option (pilihan jawaban) untuk menemukan gambaran umum guna menduga jawaban benar atau paling tidak mengenal tipa jawaban yang tersedia. Gunakan jenis membaca ekstensif dengan teknik membaca skiming (survai).

(3)   Baca dasar pernyataan (stimulus) yang merupakan konteks soal dengan membaca ekstensif teknik membaca scaning (memindai) untuk menemukan dan merelokasi kemungkinan jawaban.

(4)   Tentukan pilihan jawaban sementara pada option.

Pada beberapa kasus soal yang mudah, sampai tahap ini sudah cukup mantap pilihan jawabannya. Namun pada umumnya untuk soal bahasa Indonesia belum cukup dan perlu langkah berikutnya untuk menguji kecermatan jawaban.

Setelah dapat menentukan jawaban sementara, selanjutnya memasuki tahap kecermatan menentukan jawaban dengan menerapkan “sistem gugur” yang disertai dengan argumentasi yang kuat. Langkah menentukan keakuratan jawaban dengan sistem ini adalah sebagai berikut.

(1)   Gunakan jawaban sementara (hasil langkah cepat ke-4) sebagai pangkal pembahasan.

(2)   Bandingkan dugaan jawaban dengan option lain yang paling lemah, berikan masing-masing argumentasinya. Berdasarkan pertimbangan kekuatan argumentasi, gugurkan satu option yang lemah. Option yang terpilih (menang) dijadikan pangkal pembahasan untuk diadu dengan option lain. Catatan: argumen bisa berupa kaidah, kriteria, ketentuan, logika berbahasa.

(3)   Lakukan langkah “mengadu” option sampai didapatkan satu buah option yang paling tepat dan dengan argumentasi yang paling kuat. Langkah ke-3 tahap kecermatan akan memberikan kepastian pilihan jawaban. Siswa akan tahu secara pasti jawabannya benar atau ragu-ragu. Ragu-ragu berarti penguasaan argumennya belum kuat dan menjadi tugas guru untuk memperkuat penguasaan dan ketajaman argumen.

Ada 4 teknik pemberian argumentasi yang menentukan kekuatan, yakni (1) argumentasi teoretis: didukung oleh teori atau referensi penunjang, (2) argumentasi empiris: didukung oleh hasil penelitian-untuk tingkat siswa belum saatnya menggunakan ini, (3) argumentasi logis: didukung dengan kekuatan penalaran yang logis, sistematis, dan masuk akal, dan (4) argumentasi praktis: didukung oleh data lapangan, data konteks.

Cara cerdas menghadapi soal bahasa Indonesia sebagaimana dijelaskan tersebut, pada tahap latihan pembahasan soal menguras banyak energi, kesabaran, kecerdasan, kejelian, kecermatan, penalaran kritis, dan wawasan yang luas. Oleh karena itu, dianjurkan guru membantu peserta didik dengan:

(1)   Latihan soal bahasa Indonesia yang serius “cerdas menghadapi UN ini” akan menguras energi dan tentunya membuat cepat lapar.

(2)   Menambah penguasaan materi pelajaran sebagai bekal memberikan argumentasi (teoretis).

(3)   Melatih kesabaran, kecermatan, kejelian, dan kecepatan membaca dengan berbagai teknik membaca dan permainan bahasa.

(4)   Melatih penalaran, ketajaman logika, dan daya kritis dengan membiasakan debat pada peserta didik agar kekuatan argumentasi semakin meningkat. Buat pasangan-pasangan debat yang seimbang.

(5)   Memberikan latihan soal yang menekankan segi kualitas: kedalaman dan ketuntasan jawaban dan tidak menekankan pada jumlah soal latihan (kuantitas).

(6)   Hindari tray out yang berlebihan. Tray out akan kontraproduktif manakala argument siswa belum kuat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 21, 2013 in Pendidikan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: