RSS

Ekspresionisme Karya George Trakl

22 Feb

100_1662[1]

Seorang dosen dari Universitas Bonn Jerman bernama Berthard Dam Austen atau biasa dipanggil Pak Thrum yang juga sekaligus sebagai penerjemah karya-karya Georg Trakl pada Selasa, 19 Februari 2013 menjelaskan secara panjang dan lebar bagaimana buku kumpulan puisi George Trakl tersebut di tulis hingga dibukukan. Pagi itu bedah buku tersebut di moderatori oleh Ibu Dorothea Rosa Herliani dan sastrawan terkenal dari semarang Timbul Sinar Suprabana.

Pak Trum, begitu biasa ia disapa menjelaskan bahwa Trakl merupakan salah seorang penyair yang patut di kasihani kerena memiliki jalan hidup yang tragis dalam proses kreatifnya menciptakan berbagai judul skripsi. George Trakl merupakan salah satu penyair beraliran ekspresionisme yang meninggal pada usia 27 tahun. Karya-karyanya sebagian besar merupakan suatu bentuk kemuraman, penderitaan dan rasa trauma yang sangat mendalam. Selain itu kebanyakan puisi trakl juga merupakan suatu bentuk kritik social ndan rasa jengkelnya terhadap budaya Jerman.

Jalan cerita hidupnya yang tragis dimulai sejak ia berusia 12-13 tahun sejak umur tersebut, Trakl sudah mengkonsumsi obat-obatan terlarang, profesinya sebagai asisten semakin membuatnya tergantung dengan obat-obatan. Bahkan di kabarkan bahwa ketika dalam pengaruh obat-obatan ia bahkan pernah melakukan hubungan inseks dengan adiknya sendiri. Hingga rasa bersalah menghantuinya dan akhirnya ia pun mati bunuh diri pada usia 27 tahun. Dalam dirinya telah mengalir darah seni karena ibunya merupakan seorang pengumpul barang antic dan adiknya adalah seorang pianis.

Dalam bedah buku yang sebagian dihadiri oleh para guru SMP tersebut juga mendiskusikan hal-hal menarik seputar pembelajaran sastra di sekolahan. Sebuah pertanyaan terlontarkan apakah latar belakang Trakl yang sedemikian tragis tersebut sesuai jika diajarkan di sekolah untuk anak-anak SMP, dengan antusias Pak Trum menjelaskan bahwa disinilah peran seorang guru untuk memberikan kontrol kepada anak didiknya bahwa hal-hal yang diluar norma merupakan sebuah kenyataan dalam hidup ini dan harus disikapi secara bijaksana.

Disampaikan pula bahwa para guru pada umumnya mengalami kesulitan untuk mengajarkan sastra kepada peserta didiknya. Oleh Timbul hal tersebut disikapi sebagai sebuah tantangan yang harus diselesaikan oleh guru bagaimanapun caranya. Terakhir, menurut Pak Trum bahwa menulis puisi yang di perlukan adalah kejujuran dan intensitas dalam menulis.

Semarang, 22 Februari 2013
10:30 B1.106

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2013 in Sastra

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: